Friday, November 23, 2007
PRODUKTIVITAS
Sumber: http://sepia.blogsome.com/
Adi adalah pekerja keras. Berangkat lebih pagi, pulang larut malam. Sebaliknya Budi pekerja santai, seringkali terlihat cuma duduk-duduk ketawa-ketiwi dengan kolega. Adi bekerja lebih keras daripada Budi. Tapi kenapa Adi pendapatannya justru lebih rendah daripada Budi?
Penghasilan kita memang tidak ada kaitannya dengan kerja keras. Tak perlu heran bila kerja keras kita tak dihargai. Karena memang bukan kerja keras kita yang berharga, tapi produktifitas kita.
Apa itu efektifitas?
Biarpun tampak santai, kerja Budi selalu tepat sasaran. Hasil kerjanya berkualitas bagus, sesuai yang dituntut perusahaan. Ini yang disebut kerja efektif.
Efektifitas diukur dari jumlah hasil keluaran yang sesuai harapan/layak (sebut saja ‘qualified output’ atau output layak) dari seluruh hasil keluaran (output).
Efektifitas = Output_layak / Output
Misalkan 2 pekerja pembuat kendi tanah liat (gerabah) masing-masing ditugaskan membuat 10 kendi dengan kualitas sesuai syarat yang ditentukan (disebut Target atau Ideal Output).
Pekerja A membuat 10 kendi, sayang cacat 2 buah. Jadi hanya 8 kendi yang layak (qualified output). Maka efektifitas kerja dia adalah 8/10 alias 80%.
Pekerja B hanya berhasil membuat 6 buah yang layak dari 10 yang ia buat. Efektifitas kerja B adalah 60%.
Efektifitas hanya mengkaji output. Ketika membicarakan efektifitas kita tidak mempedulikan berapa banyak sumber daya yang dibutuhkan. Tidak peduli berapa banyak input berupa waktu kerja, energi, maupun bahan yang dibutuhkan, ukuran efektifitas hanyalah jumlah output layak dari sejumlah output yang dihasilkan. Makin banyak output layak berarti makin efektif.
Efektifitas kerja seseorang dipengaruhi dua hal, pertama adalah kemampuan dia memahami target tujuan akhir (ideal output), kedua adalah kecakapan dalam membuat solusi yang sesuai target tersebut (qualified output). Seseorang yang efektif dalam kerja ditandai dengan kemampuan mendefinisikan target akhir, serta kecakapan dalam mewujudkan solusi yang layak bagi target akhir tersebut.
Apakah Anda termasuk orang yang efektif? Ukur saja pencapaian hasil kerja Anda dibandingkan target yang dituntut perusahaan. Makin banyak target yang tercapai (dengan kualitas yang sesuai) berarti makin efektif kerja Anda.
Kesia-siaan yang sering terjadi adalah seorang yang sangat efisien bekerja, tapi hasilnya salah arah alias tidak efektif. Itulah yang dicela Peter Drucker, bekerja sangat efisien untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dilakukan!
Apa itu efisiensi?
Sering kita menganggap orang yang rajin bekerja adalah orang yang produktif. Setelah mengetahui arti efektifitas tentu mudah untuk memahami bahwa rajin bukanlah produktif. Rajin adalah sikap kerja, namun bukan ciri produktif. Rajin maupun malas bisa sama-sama produktif, bisa juga sama-sama tidak produktif.
Komponen kedua dari produktifitas bukanlah sikap kerja, tapi efisiensi. Efisiensi adalah hubungan antara jumlah keluaran (output) dari sejumlah input (masukan). Makin efisien berarti untuk sejumlah input akan dihasilkan lebih banyak output. Rumus efisiensi adalah output per input.
Efisiensi = Output / Input
Misalkan 2 pekerja pembuat kendi tanah liat. Masing-masing diberi bahan 2 kg tanah liat.
Pekerja A berhasil membuat 5 kendi. Pekerja B berhasil membuat 8 kendi. Pekerja A mempunyai efisiensi 5 kendi/2 kg. Sedangkan B mempunyai efisiensi 8 kendi/2 kg. Maka pekerja B disebut lebih efisien.
Dalam efisiensi kita tidak membicarakan kualitas output. Apakah kendi yang dihasilkan bagus atau cacat bukanlah ukuran efisiensi.
Apa itu Produktifitas?
Produktifitas muncul dari kombinasi efektifitas dan efisiensi. Produktifitas (atau kita sebut daya produksi) adalah efisiensi dikalikan efektifitas. Secara matematis menjadi :
Produktifitas = efisiensi x efektifitas = output/input x outputlayak/output = outputlayak/input
Jadi produktifitas menghubungkan pencapaian sasaran dengan masukan yang dibutuhkan. Makin produktif berarti pencapaian sasaran yang makin banyak untuk sejumlah input yang tetap.
Misalkan pekerja tanah liat A dan B dibandingkan. Siapakah yang lebih produktif?
Pekerja A : (5 kendi/2 kg bahan) x 80% = 2 kendi / kg bahan
Pekerja B : (8 kendi/2 kg bahan) x 60% = 2,4 kendi / kg bahan
Ternyata pekerja B lebih produktif!
Bila Anda seorang manajer, akankah Anda memilih pekerja B? Benarkah pilihan Anda itu?
Ilustrasi dua konsultan.
Adi bekerja lebih keras dibadingkan Budi. Namun kalau diperhatikan lebih seksama ternyata memang Budi lebih produktif. Dalam 2 jam duduk di komputer, Adi mampu membuat laporan 10 halaman, sedangkan Budi mampu membuat 20 halaman. Budi lebih efisien.
Kemudian dari laporan yang dibuat Adi (dia menghabiskan waktu 8 jam untuk membuat 40 halaman) ternyata hanya sebagian kecil saja solusi yang sesuai harapan klien. Terpaksa setiap kali Adi merevisi kembali laporan tersebut. Sedangkan Budi bekerja 2 jam sehari untuk membuat laporan 20 halaman. Hampir 90% solusi dari Budi sangat sesuai harapan klien. Bahasa komunikasi Budi lugas dan tepat sasaran. Dengan demikian Budi hanya melakukan perbaikan minor. Budi lebih efektif.
Pantaslah Budi masih punya cukup waktu untuk duduk-duduk ketawa-ketiwi dengan teman-temannya, sementara Adi masih bekerja keras di meja kerjanya. Budi memang lebih produktif daripada Adi.
Tuesday, November 20, 2007
Istana Umar bin Khattab
"Dimanakan istana raja negeri ini?" tanya seorang Yahudi dari Mesir yang baru saja tiba di pusat pemerintahan Islam, Madinah.
"Lepas Dzuhur nanti beliau akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu," jawab lelaki yang ditanya.
Dalam benak si Yahudi Mesir itu terbayang keindahan istana khalifah. Apalagi umat Islam sedang di puncak jayanya. Tentu bangunan kerajaannya pastilah sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh khalifah.
Namun, lelaki itu tidak mendapati dalam kenyataan bangunan yang ada dalam benaknya itu. Dia jadi bingung dibuatnya. Sebab di tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang ditanya tadi tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma tetapi cuman sebatang. Di bawah pohon kurma, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai jubah kusam. Lelaki berjubah kusam itu tampak tidur-tiduran ayam atau mungkin juga sedang berdzikir. Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki yang bersender di bawah batang kurma, "Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar bin Khattab," tanyanya.
Lelaki yang ditanya bangkit, "Akulah Umar bin Khattab."
Yahudi itu terbengong-bengong, "Maksud saya Umar yang khalifah, pemimpin negeri ini," katanya menegaskan.
"Ya, akulah khalifah pemimpin negeri ini," kata Umar bin Khattab tak kalah tegas.
Mulut Yahudi itu terkunci, takjub bukan buatan. Jelas semua itu jauh dari bayangannya. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba wah. Itu baru kelas rahib, tentu akan lebih jauh lagi kalau dibandingkan dengan gaya hidup rajanya yang sudah jamak hidup dengan istana serba gemerlap.
Sungguh sama sekali tidak terlintas di benaknya, ada seorang pemimpin yang kaumnya tengah berjaya, tempat istirahatnya cuma dengan menggelar selembar tikar di bawah pohon kurma beratapkan langit lagi.
"Di manakah istana tuan?" tanya si Yahudi di antara rasa penasarannya.
Khalifah Umar bin Khattab menuding, "Kalau yang kau maksud kediamanku maka dia ada di sudut jalan itu, bangunan nomor tiga dari yang terakhir."
"Itu? Bangunan yang kecil dan kusam?"
"Ya! Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada di dalam hati yang tentram dengan ibadah kepada Allah."
Yahudi itu tertunduk. Hatinya yang semula panas oleh kemarahan karena ditimbuni berbagai rasa tidak puas hingga kemarahannya memuncak, cair sudah. "Tuan, saksikanlah, sejak hari ini saya yakini kebenaran agama Tuan. Ijinkan saya menjadi pemeluk Islam sampai mati."
Mata si Yahudi itu terasa hangat lalu membentuk kolam. Akhirnya satu-persatu tetes air matanya jatuh.
Diambil dari : http://oaseislam.com
Monday, November 12, 2007
INDAHNYA MALAM PERTAMA
Satu hal sebagai bahan renungan Kita…
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa
Justeru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Mauuut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu…mempelai sangat dimanjakan Mandipun…harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka….Tak Ada sehelai benangpun menutupinya..
Tak Ada sedikitpun rasa malu…Seluruh badan digosok Dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang - lubang itupun ditutupi kapas putih…Itulah sosok Kita….
Itulah jasad Kita waktu itu Setelah dimandikan…, Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih, kain itu …jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju Kita…Bagian kepala..,badan…, Dan kaki diikatkan
Tataplah….tataplah…itulah wajah Kita. Keranda pelaminan…langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian…Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan. Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin…Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan..yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan Dan akhirnya….. Tiba masa pengantin..
Menunggu Dan ditinggal sendirian…
Tuk mempertanggungjawabkan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap Dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi….
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat…
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur…
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur…..
Kita tak tahu…Dan tak seorangpun yang tahu….
Tapi anehnya Kita tak pernah galau ketakutan….
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata…
Seolah barang berharga yang sangat mahal…
Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya Kita berharap menjadi ahli syurga…
Tapi….tapi ….sudah pantaskah sikap kita selama ini…
Untuk disebut sebagai ahli syurga
HuhHuhHuh
Sahabat…mohon maaf…jika malam itu aku tak menemanimu
Bukan aku tak setia… Bukan aku berkhianat….
Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan
Tapi percayalah…aku pasti kan mendo’akanmu…
Karena …aku sungguh menyayangimu…
Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga
Aku berdo’a…semoga kau jadi ahli syurga. Amien
Thursday, November 8, 2007
( TIPSS ) FORMULA JITU MERAIH SUKSES ( BAGIAN 1 DARI 6 )
APAKAH SUKSES TERJADI TANPA PROSES ????
APAKAH ADA FORMULA UNTUK SUKSES???
"TIPSS" FORMULA JITU MERAIH SUKSES
TEKAD YANG BULAT
IKHTIAR TIADA HENTI
PASRAH PADA KEHENDAK ALLAH
SABAR BILA BELUM TERCAPAI
SYUKUR ATAS HASIL YANG DIPEROLEH
BERSAMBUNG........................................
Tuesday, November 6, 2007
EVALUASI KEEFEKTIFAN PELATIHAN
Evaluasi keefektifan pelatihan adalah suatu sarana untuk mengetahui apakah pelatihan yang dilakukan efektif.

DONALD L. KIRKPATRICK
Menurut Donald L. Kirkpatrick ada 4 level untuk mengetahui keefektifan dari sebuah pelatihan. 4 Level tersebut adalah Reaction, Learning, Behavior dan Result.
LEVEL 1 : REACTION.
Evaluasi level satu bertujuan untuk mengetahui respon peserta terhadap pelatihan yang dijalankan.
Tools yang dapat dipakai adalah pengisian questionare atau wawancara langsung dengan peserta langsung setelah pelatihan selesai.
Faktor-faktor yang dievaluasi adalah:
- Trainer
- Materi Pelatihan
- Kondisi Ruangan ( AC, Kebersihan, Lay Out )
- Makanan
- Waktu
- Pelayanan administrasi
LEVEL 2: LEARNING
Evaluasi level 2 bertujuan untuk mengetahui perubahan Skill, Knowledge atau Attitude ( SKA ) setelah mengikuti pelatihan. Tools yang dapat dipakai adalah pre-post test, attitude survey dan observasi skill.
Pelatihan efektif bila terjadi perubahan sikap, bertambahnya pengetahuan dan peningkatan keterampilan ( Skill ).
LEVEL 3: BEHAVIOR
Evaluasi level 3 bertujuan untuk mengetahui perubahan prilaku peserta pelatihan ditempat kerja. Tool yang dapat dipakai dalam pelatihan ini adalah survey 360 derajat atau observasi prilaku selama periode tertentu setelah mengikuti pelatihan,
LEVEL 4: RESULT
Yang dilihat dari evaluasi level 4 adalah peningkatan produktifitas dan kualitas setelah mengikuti pelatihan. Beberapa faktor yang dapat dievaluasi adalah:
- Produktifitas
- Keselamatan kerja
- Profit
- Penjualan
- Kepuasan pelanggan
- Hasil uji profisiensi
MY FAMILY
Istri saya Aas Puspitaningsih, sama-sama lulusan dari AKA Bogor.
Putra pertama FATHINNAUFALSHIDDIQ FATIHHAIDAR RAZIN KHAIRY ( KA NAUFAL ) Lahir pada tanggal 6 Juni 2002.
Putra kedua HAZIMAH TAQIYYAH ALIMAHSHOLIHAT BAROKATURROMADHONI ( ADE ALIMAH )Lahir pada tanggal 1 November 2005.
Lagi Jalan-Jalan Ke Pasir Mukti Citeureup
Monday, November 5, 2007
Sekilas Tentang Blog ini
- ISO-14001:2004
- OHSAS-18001:2007
- ISO-17025:2005
- ISO-9001:2000
- MANAJEMEN PELATIHAN
- SISTEM MANAJEMEN TERINTEGRASI ( QHSE DAN ISO 22000 )
- LEAN SIGMA